Komoditas Ramah Gambut

Gambut yang merupakan tumpukan vegetasi berusia ratusan tahun merupakan lahan yang menyimpan banyak karbon namun mudah terbakar. Sehingga, ketika terjadi kebakaran gambut, akan terjadi pelepasan karbon yang sangat tinggi. Karbon yang terlepas ke udara ini dapat membuat bumi semakin panas dan memperparah perubahan iklim.

Gambut yang berisiko terbakar adalah gambut yang kering. Salah satu cara untuk memperkecil risiko kebakaran adalah menjaga lahan gambut tetap basah. Di situlah tercetus model bisnis yang dapat membantu masyarakat sekaligus menjaga lingkungan, yaitu budidaya ikan gabus di lahan konservasi gambut dan area sekat kanal. Hal ini terwujud melalui gotong royong antara Pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan orang-orang muda lokal di Kabupaten Siak.

www.alamsiaklestari.com

Nanas merupakan salah satu komoditi ramah gambut. Penanaman nanas yang rapat ditambah daunnya yang tebal lebih tahan terhadap api, sehingga jika terjadi kebakaran api bisa diredam. Tanaman nanas juga mampu menjaga kelembaban lahan gambut dengan ditanam secara tumpang sari bersama vegetasi naungan lainnya. Salah satunya karena daunnya mencegah penguapan air yang diakibatkan oleh paparan sinar matahari.

Di Kabupaten SIakPinaloka hadir sebagai wujud inovasi sosial, sebuah usaha lokal yang lahir dari tangan perempuan Siak dengan  semangat  memberdayakan  kelompok perempuan dan orang muda. Kami percaya bahwa cita  rasa  nanas  lahan  gambut  tidak  hanya menghadirkan  kesegaran,  tetapi  juga  membawa harapan—menciptakan   lapangan   kerja   hijau, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga kelestarian gambut untuk generasi mendatang.

www.pinaloka.id

Kopi liberika (Coffea liberica) dikenal sebagai kopi khas gambut karena kemampuan untuk bisa beradaptasi dengan baik ditanah gambut sementara kopi jenis lain (arabica dan robusta) tidak bisa tumbuh (Hulupi 2014). Menurut Gusfarina (2014), kopi liberika juga toleran terhadap serangan hama dan penyakit serta tahan terhadap iklim yang panas dan kelembaban yang tinggi. Dalam hal perawatan, kopi liberika tidak memerlukan hortikultura intensif. Penanaman kopi liberika dapat dilakukan melalui budidaya tumpang sari dikebun karet mupun kebun sawit masyarakat.

Semangka Sebagai Solusi Cegah Karhutla yang datang hampir setiap tahun di Desa Dayun, beberapa masyarakat berinisiatif mencari solusi sekaligus bisa meningkatkan pendapatan dengan menggunakan lahan kebun miliknya. Maka dipilih semangka sebagai tumbuhan solutif untuk mengatasi karhutla. Karena tumbuhan semangka ini membutuhkan banyak air, maka akan selalu disiram sehingga lahan akan tetap basah dan tidak kering.

Inovasi Produk Turunan Semangka yang dihasilkan dari komoditas semangka para petani di Desa Dayun yaitu Brownies Semangka, Sirup Semangka, Keripik Semangka, Jelly Semangka, Selai Semangka, Minuman Semangka, Manisan Kulit Semangka, dan Batik Motif Daun Semangka yang menjadi ciri khas batik dari Desa Dayun, Siak-Riau.

www.dayun.id

Singkong (Ubi Kayu) merupakan salah satu makanan produk yang ada di Indonesia penghasil energi setelah padi. Tanaman singkong penting sebagai sumber bahan pangan karbohidrat dan bahan baku industri makanan, kimia dan ternak banyaknya olahan makanan dan manfaat dari singkong sehingga menjadikan singkong menjadi makanan yang sangat disukai dikalangan masyarakat. Tanaman singkong tidak hanya dapat tumbuh di lahan mineral, naumun dpat tumguh juga di lahan gambut. Namun demikian lahan gambut yang dimanfaatkan sebagai lahan budidaya, harus dikelola dengan cara tertentu secara tepat dan benar, guna memanfaatkan lahan gambut untuk bercocok tanam singkong, serta mengedukasi petani bahwa singkong memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga dapat menambah pendapatan petani.

https://www.instagram.com/telarasa.id

Penggunaan tanaman lidah memeiliki nilai ekonomis cukup besar di dalam industri dikarenakan komponen-komponen yang dimilikinya cukup lengkap dan bermanfaat. Komponen tersebut terdapat dalam cairan bening seperti jeli dan cairan yang berwarna kekuninganTanaman lidah buaya yang mudah tumbuh dengan baik di lahan gambut sekitar khatulistiwa memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Penggunaan tanaman lidah buaya dalam industri secara garis besar dapat dibagi menjadi empat jenis industri yaitu :

  1.  Industri pangan, sebagai makanan tambahan (food supplement), produk yang langsung dikonsumsi dan flavour.
  2.  Industri farmasi dan kesehatan, sebagai anti inflasi, anti oksidan, laksatif, anti mikrobial dan molusisidal, anti kanker, imunomodulator dan hepatoprotector. Paten yang telah dilakukan beberapa negara maju antara lain: CART 1000, CARN 750, Polymannoacetate, Aliminase, Alovex dan Carrsyn.
  3. Industri kosmetika, sebagai bahan baku lotion, krem, lipstik, shampo dan kondisioner.
  4.  Industri pertanian, sebagai pupuk, suplemen hidroponik, suplemen untuk media kultur jaringan dan penambah nutrisi pakan ternak.

Sagu adalah komoditas penting yang cocok untuk lahan gambut karena sifatnya yang tahan terhadap kondisi tanah asam, basah, dan miskin hara serta membantu dalam restorasi ekosistem gambut. Budidaya sagu di lahan gambut memberikan potensi untuk ketahanan pangan, mata pencaharian berkelanjutan, dan pencegahan kebakaran hutan karena tanaman ini membutuhkan kelembaban yang tinggi, mendukung fungsi hidrologis gambut. Pengelolaan lahan gambut yang lestari dapat dipelajari ataupun dikembangkan melalui praktik yang telah dilakukan oleh para petani lahan gambut di Riau. Salah satu bentuk pemanfaatan lahan gambut adalah pengembangan komoditas Sagu (Metroxylon sagu)